Monday, February 4, 2013

KHAZAD-DÛM / MORIA



oleh Novia Stephani


Durin I Discovers the Three Peaks by Ted Nasmith

Ini juga sangat menarik karena ada hubungannya dng The Hobbit.

Moria sebenernya berarti jurang hitam dlm bahasa elf. Tapi dulunya, sebelum Moria dikuasai orc, tempat itu bernama Khazad-dum, Dwarrowdelf, kota bawah tanah yg digali dan dibangun para dwarf.

Durin, salah satu dari tujuh nenek moyang dwarf, yg menemukan lokasinya. Ada danau diapit dua kaki gunung. Tiga puncak gunung menjulang di atasnya. Waktu Durin ngeliat ke danau itu, bintang2 yg terpantul di air danau seperti membentuk mahkota di atas kepalanya dan buat dia itu seperti pertanda baik.

Dan sekarang, sederetan nama dalam bahasa dwarf (banyak huruf z-nya):
  • Danau yang memantulkan cahaya bintang di bayangan Durin: Kheled-zâram (Mirrormere)
  • Mata air dingin yang mengalir ke Kheled-zâram: Kibil-Nâla
  • Tiga puncak gunung di atas danau: Zirakzigil (Silvertine, Celebdil), Barazinbar (Redhorn, Caradhras), Bundusathûr (Cloudyhead)
  • Lembah di depan gerbang utama Khazad-dûm: Azanulbizar (Dimrill Dale)
Dimrill Dale by Alan Lee












Khazad-dum jadi luas dan kaya karena para dwarf menambang mithril di sana. Mithril, yg menurut Bilbo di film Fellowship of The Ring, lebih ringan dari bulu dan lebih kuat dari baja, hanya ditemukan di Khazad-dum.

Khazad-dum punya dua pintu gerbang. Gerbang utama di sisi timur menghadap lembah Azanulbizar, dan di bawahnya terletak Lothlorien, wilayah Galadriel.

Azanulbizar by Ian Miller














Gerbang barat punya pintu khusus, yg bisa kita lihat di Fellowship of The Ring (buku dan film). Pintu dibuat dwarf Narvi dan tulisannya dibuat elf Celebrimbor dng ithildin yg hanya keliatan di bawah cahaya bulan. Di sini Fellowship sempat mentok cari password masuk Moria.

Password Into Moria by Ted Nasmith
Demi mencari mithril, dwarf menggali makin dan makin dalam ke perut bumi. Dan akhirnya mereka menggali sampai ke tempat balrog jauh di dalam tanah. Balrog ini mengamuk dan para dwarf kewalahan. Meski mereka petarung yang tangguh, Balrog tidak mempan senjata.

Akhirnya setelah dua raja dwarf Khazad-dûm tewas diserang Balrog, mereka mengosongkan tempat itu. Dan para orc, yang selalu merongrong dwarf, masuk dan berkuasa di situ. Khazad-dûm, yang tadinya terang benderang dengan lampu-lampu kristal, jadi gelap dan berbahaya, dan karenanya disebut Moria. Balrog pun dikenal sebagai Durin's Bane, musuh/pembunuh Durin.

Thrór (kakeknya Thorin), yang tadinya raja di Erebor sebelum kedatangan Smaug, mencoba memasuki Moria lagi hanya ditemani satu dwarf, Nár. Meski dicegah, Thrór ngotot masuk. Nár menunggu di luar dengan cemas. Lalu orc di Moria melempar badan Thrór, tanpa kepala. Kepalanya menyusul dibuang keluar, dicap dengan nama AZOG, raja orc di Moria saat itu.

Nár lalu lapor pada Thráin putra Thrór (ayah Thorin). Geram, Thráin menggalang pasukan dwarf dari berbagai klan selama tiga tahun sebelum dimulai perang melawan orc. Para dwarf menggempur orc di mana pun di Misty Mountain, habis-habisan. Terdesak, orc-orc yang masih bertahan berkumpul di Moria. Dan di depan gerbang utamanya di Azanulbizar pecah puncak perangnya (yang kita lihat di film The Hobbit: An Unexpected Journey, tapi versi Peter Jackson, diadaptasi.)
Battle of Azanulbizar by Anzu 
Dalam perang ini Azog akhirnya mati dikapak oleh Dain Ironfoot, yg masih sangat muda, baru 30-an umurnya.

Begitu banyak dwarf yg mati di perang Azanulbizar sampai para dwarf nggak punya pilihan lain kecuali mengambil persenjataan dan baju zirah saudara mereka yg gugur (supaya tidak dilucuti orc), lalu membakar jenazahnya dng kayu yg ditebang dari pepohonan di sekitar Danau Kheled-zaram.


Sebenarnya tradisi pemakaman dwarf mengharuskan jenazah disimpan dalam peti batu (seperti makam Balin di film Fellowship of The Ring), tapi untuk membuat makam batu untuk semua korban perang Azanulbizar akan terlalu lama. Para dwarf yang gugur di Azanulbizar sangat dihormati. Anak cucunya akan cerita "Moyang saya dulu dibakar" dengan rasa bangga.

Tapi perang ini, meski tragis, ada hikmahnya. Kalau para dwarf tidak menumpas banyak orc dalam perang ini, akan jauh lebih banyak orc menghadang saat Bilbo ikut bertualang dengan Thorin & co. ke Erebor. Kalau tidak ada perang ini, jumlah orc akan sangat sangat banyak, hingga mungkin pasukan gabungan manusia-dwarf-elf di Battle of Five Armies di akhir buku The Hobbit tidak akan bisa menang.

Setelah matinya Azog, Thráin mengajak pasukan dwarf untuk masuk ke Moria dan membersihkannya dari orc. Tapi dwarf-dwarf dari klan lain ini enggan karena sudah terlalu banyak korban jatuh. Selain itu Dáin, yang membunuh Azog, bilang, "Durin's Bane (Balrog) masih di dalam Moria. Dunia harus berubah, dan harus datang kekuatan selain kita, sebelum kita bisa menguasai Moria."

Karena itulah, waktu Fellowship yang dipimpin Gandalf memasuki Moria, di sana masih berkeliaran orc dan masih ada Balrog. Balin dan kelompoknya gagal merebut kembali Moria.

Gandalf akhirnya bertarung dengan Balrog sampai akhirnya berhasil mengalahkannya di puncak Zirakzigil.
 
Zirakzigil by John Howe
Baru setelah itu, di Zaman Keempat (Fourth Age) akhirnya, menurut Tolkien di beberapa manuskripnya, meski tidak sampai masuk di buku, dwarf kembali mengkolonisasi Khazad-dûm dan mengembalikan cahaya ke dalam gelapnya Moria.

Satu bukti bahwa Khazad-dûm/Moria kembali dihuni setelah Balrognya mati: setelah jatuhnya Sauron, Gimli dan dwarf Erebor membantu merenovasi Minas Tirith. Di antaranya membangun gerbang dari baja dan mithril sebagai pengganti gerbang yang dirusak Witch-king.

Sebelum dwarf meninggalkan Moria harga mithril sepuluh kali emas. Setelah Moria kosong dan mithril tidak ditambang lagi, harganya tidak ternilai (Gandalf bilang baju mithril Bilbo harganya lebih mahal dari seisi Shire).

Kalau Gimli & co bisa dapat cukup mithril untuk bikin gerbang Minas Tirith, artinya kan Moria udah kembali jadi Khazad-dûm!


No comments:

Post a Comment