Showing posts with label Silmarillion. Show all posts
Showing posts with label Silmarillion. Show all posts

Monday, February 4, 2013

Tentang Anak-anak Dan Keturunan Feanor



oleh Novia Stephani


Kan Feanor bersumpah ngerebut silmaril meski dari vala, manusia ato elf, pake bawa2 nama Eru lagi, lalu ngotot pergi ke Middle-earth dan pake ngebunuhin sesama elf supaya bisa dapat kapal nyebrang dari Valinor ke ME. Di tengah jalan dia ditahan Mandos yg bilang Feanor dan pengikutnya di-ban nggak bisa balik ke Valinor, bahkan jeritan minta tolong mereka pun nggak akan sampai ke sana. Mereka akan kemakan sumpah sendiri, dan mati karenanya, karena senjata atau kesedihan, dst dst (sumpah, ini ancemannya Mandos bikin merinding di buku). Tapi Feanor tetep keukeuh bahkan ngebakar kapalnya setiba di Losgar di ME. Fingolfin, sodara tirinya, yg kemakan janji akan selalu ngikutin Feanor sebagai abangnya, sulung dari keluarga Finwe, kepaksa jalan kaki lewat jembatan es Helcaraxe dan bersamanya ikut ponakan2 dari adiknya, Finarfin, termasuk Finrod dan Galadriel.

Tapi nggak lama di ME, Feanor yg grasa-grusu ngelawan Morgoth langsung dihadang banyak balrog. Ketujuh anaknya (Feanor elf dng anak paling banyak di sejarah elf. Semua anaknya lelaki: Maedhros, Maglor, Celegorm, Curufin, Caranthir, Amras, Amrod) berusaha nolong tapi telat. Sebelum mati Feanor minta anak2nya janji akan nerusin sumpahnya. Pas dia mati api di dalam rohnya menghanguskan badannya sampe nggak ada yg bisa dikubur.

Sebenernya setelah lama di ME dan keliatannya Morgoth gak bisa dikalahin, anak2 Feanor udah anteng sih. Tapi terus mereka denger Luthien dan Beren berhasil dapet silmaril dan oleh Thingol silmaril ini dipasang di kalung Nauglamir dan mereka inget sumpah bapaknya.

Selama Luthien masih idup anak2 Feanor gak berani nantangin (Luthien udah pernah ngalahin Sauron, memperdaya Morgoth, membujuk Mandos buat ngasih dia dan Beren kesempatan kedua. Berani macem2?). Tapi sepeninggal Beren dan Luthien, kalung Nauglamir dikasih ke anaknya, Dior, raja pengganti Thingol di Doriath. Langsung anak2 Feanor nyerbu ke sana. Dan terjadilah Kinslaying (pembantaian saudara) yg kedua di sejarah Middle-earth. Dior dan istrinya Nimloth tewas. Dua anak kembarnya laki2 diusir biar kelaparan di hutan. Cuma anak perempuannya, Elwing yg berhasil kabur.

Tapi di Second Kinslaying ini juga mati anak2 Feanor. Celegorm, Caranthir, Curufin, Amrod, Amras tewas semua.

Terakhir, Maglor dan Maedhros denger bahwa Elwing berhasil kabur ke muara Sirion, di mana para pengungsi Gondolin tinggal. Di sana ia menikah dengan Earendil dan punya anak kembar Elrond dan Elros.

Maglor dan Maedhros nyerbu lagi ke situ dan membantai banak perempuan dan anak2 di peristiwa Kinslaying yg ketiga. Tapi mereka kasihan dng Elrond dan Elros yg akhirnya mereka sandera tapi nggak dikasarin.

Saat itu Earendil udh dlm perjalanan ke Valinor bawa silmaril di kalung Nauglamir, untuk minta ampun kepada Valar dan minta tolong ngalahin Morgoth. Karena Earendil memohon atas nama manusia dan elf, bukan untuk dirinya sendiri, Valar jatuh iba dan turun tangan ngeringkus Morgoth.

Maedhros lalu ngajak Maglor nyuri dua silmaril yg berhasil diambil para Valar dari Morgoth. Maglor berusaha nyegah, tapi gagal. Cuma, karena mereka udah melakukan kejahatan2 lantaran silmaril, permata itu jadi kerasa panas di tangan mereka (kayak pas silmaril di tangan Beren ketelen ama werewolf Carcharoth langsung mules2). Saking nggak tahan, Maedhros ngelempar diri bersama silmaril ke lava panas, Maglor ngebuang silmarilnya ke laut lalu mengembara menyesali perbuatannya. Ini sedih banget karena Maglor ini penyair dan pemusik. Kali sebenernya nggak cocok disuruh2 perang, cuma kebawa udah janji sama mendiang ayahnya.

Anyway, setelah dikalahkannya Morgoth, para pengikut Feanor di ME yg semula di-ban nggak boleh pulang ke Valinor dimaafkan dan diizinkan kembali. Jadi bukan hanya karena nggak ada anak Feanor lagi di ME tapi juga karena elf udah pada bedol deso ke Barat maka elf jadi sedikit di 2nd Age. Dari keturunan Noldor tinggal Galadriel dan Gil-galad kali yg petinggi2nya. Terus ada Celebrimbor, putra Curufin, cucu Feanor yg akhirnya jadi pembuat cincin Nenya, Narya, Vilya. Terus ada Elrond yg milih jadi elf (kembarannya, Elros milih jadi manusia dan jadi raja Numenor). Sisanya ya kaum elf lokal kayak Thranduil, Celeborn. Makanya kali lebih adem ayem.

Cuma, kalo ga salah di suatu manuskrip yg dimasukkin Chris Tolkien ke Simarillion diceritain gimana Morgoth melepaskan diri dari rantainya di Void, trus diperangi oleh Feanor, Turin dan Tulkas dlm perang yg disebut Dagor Dagorath, Battle of Battles. Lalu silmaril dikumpulkan dari langit, dari air dan dari bumi trus Feanor memberikannya ke Varda untuk memulai dunia baru. (Pas baca ini sempat merinding2 dan berkaca2. Kebayar juga dendam semua pihak yg hidupnya dan keluarganya udah abis2an teraniaya lantaran Morgoth.)

Eol



oleh Novia Stephani


Eol disebut dark elf bukan karena dia item atau jahat...well, nggak jahat di sini relatif, ya. Dia dark elf karena bukan termasuk yg pernah ikut nyebrang dan ngeliat cahaya Two Trees of Valinor. Beda sama kaum Noldor kayak Feanor cs yg udah pernah tinggal di Valinor, trus balik ke ME demi ngejar Morgoth.

Eol kebawa2 dlm cerita Silmarillion karena Aredhel, elf galau yg bosen tinggal terkurung di Gondolin. Gondolin ini kerajaan elf di bawah pimpinan raja Turgon (yg pedangnya Glamdring kemudian diketemukan di gua troll di The Hobbit dan dipake Gandalf). Gondolin dianggap salah satu lokasi kerajaan elf paling aman, paling dirahasiakan sampe lama sekali Morgoth nggak bisa nemu lokasinya hingga disebut The Hidden Kingdom.

Tapi ini artinya orang nggak bisa keluar masuk seenaknya ke Gondolin. Aredhel, adiknya Turgon, lama2 bosen, trus suatu ketika minggat mau ketemu sepupu2nya dari anak2 Feanor (ini aja udah keliatan tipenya gimana Aredhel ini. Udah tau keturunan Feanor reputasinya bikin onar, malah disamperin). Tapi trus dia kesasar, pengawalnya ilang, dan dia kesamprok Eol.

Konon Eol pake magic untuk memikat Aredhel, tapi Aredhel sendiri bukan sama sekali nggak rela dinikahin Eol. Mereka punya anak lelaki satu. Aredhel manggilnya Lomion, son of twilight, tapi bapaknya namain dia Maeglin, sharp glance, pas anak itu umur dua belas tahun.

Singkat cerita Aredhel nggak sanggup lagi tinggal dng Eol (ini udah kayak alasan cerai celebrity "irreconcilable differences") dan kabur kembali ke Gondolin bawa Maeglin.

Geram, Eol sempat ngejar ke Gondolin dan nyaris ngebunuh anaknya sendiri, tapi senjatanya malah kena Aredhel. Eol sendiri lalu mati lantaran dilempar keluar tembok Gondolin, tapi sempat ngutuk anaknya suatu saat akan mati seperti dirinya.

Maeglin mewarisi keahlian bapaknya menempa logam (Eol bikin pedang dari logam meteorit) dan turut serta memperkuat gerbang Gondolin. Dia jatuh cinta sama sepupunya, Idril putri Turgon, tapi ditolak lantaran Idril naksir manusia bernama Tuor. Dan sebenernya Maeglin juga nggak bisa nikahin Idril karena sepupu deket (anak oomnya langsung).

Karena cinta tak berbalas inilah Maeglin akhirnya dendam dan ketika ketangkep Morgoth dan dipaksa ngasih tau lokasi Gondolin dia rela ngasih tau, dengan dijanjiin akan dikasih Idril. Dan karena perbuatannya ini, rahasia lokasi Gondolin yg bertahun2 aman akhirnya bocor dan Gondolin jatuh. Dan di sini Glorfindel mati ketika bertarung lawan Balrog supaya para pengungsi Gondolin bisa melarikan diri.

Beren and Luthien




oleh Novia Stephani


Awalnya ketika Finrod Felagund (abangnya Galadriel), raja elf dari Nargothrond bertemu manusia pertama dari klan Beor. Karena kebaikan Finrod, klan Beor jadi bersahabat dng kaum elf. Ketika Morgoth membobol kepungan di sekitar markasnya dlm perang Nirnaeth Arnoediad (Battle of Unnumbered Tears), klan Beor berperang di pihak elf dan tanpa mereka, Finrod nggak bakal selamat di medan perang ini, di mana kaum elf banyak yg gugur

Sebagai ungkapan terima kasih Finrod memberi Barahir dari keluarga Beor cincin bermotif dua ular mengelilingi bunga dng batu ijo (logo House of Finarfin, ayah Finrod). Kapan pun Barahir butuh bantuannya, tinggal datang ke Nargothrond nunjukin cincin itu.

(Nantinya cincin itu diwariskan turun temurun di garis keturunan raja manusia, mulai dari Numenor, sampai kemudian Gondor dan Arnor. Di zaman Fellowship of The Ring, cincin ini dipakai Aragorn.)

Barahir dan pengawalnya (kalo gak salah 12 orang) serta anaknya, Beren, ngak meninggalkan wilayah mereka di Dorthonion. Mereka bersembunyi sambil terus memerangi tentara Morgoth.

Lalu ada satu orang, namanya Gorlim, yg kangen istrinya, Eilinel. Saat dia pulang dibuntutin sama anak buahnya Sauron. Akhirnya dia ketangkap dan disiksa, disuruh membocorkan lokasi Barahir & co. Gorlim akhirnya mau ngaku asal dipertemukan dng Eilinel. Sauron (dan di buku dia sungguh amat sangat culas) menerima syarat itu. Setelah Gorlim ngaku, barulah ia dikasih tau bahwa Eilinel ternyata udah tewas. Tapi Sauron menuhin janjinya ke Gorlim, yg dia bunuh.

Lalu pasukan Morgoth nyerang kelompok Barahir dan membantai mereka semua. Saat itu Beren sedang pergi mengintai. Waktu pulang dia shock liat ayahnya dan pengawalnya udah gugur. Tapi trus dia bermimpi dan dalam mimpinya ketemu arwah Gorlm yg menceritakan gimana kelompok mereka bisa ketauan dan di mana orc2 yg udah ngebantai Barahir dkk.

Beren pergi ke lokasi itu dan ngeliat satu orc ngacung2in tangan ayahnya yg dipotong, masih dng cincin dari Finrod di jarinya. Kalap, Beren langsung menggasak orc2 itu.

Selama bertahun2 kemudian Beren berkelana nggak tentu tujuan, sendirian. Dia banyak ditolong burung2 dan satwa liar dan karenanya nggak pernah makan daging. Karena dia masih terus memburu orc, reputasinya makin terkenal dan ditakuti.

Terus suatu hari dia masuk ke kerajaan Doriath.

Kerajaan Doriath dipimpin raja Thingol dengan ratu seorang maia yg namanya Melian. Dng kesaktiannya Melian membuat lingkaran perlindungan yg disebut Girdle of Melian di sekeliling kerajaan yg nggak bisa ditembus musuh.

Di Doriath ada hutan bernama Neldoreth dan di sinilah, suatu malam waktu bulan mulai terbit (serius di bukunya bilang begitu) Beren melihat Luthien nari. Dia langsung jatuh cinta. Tapi trus Luthien pergi dan Beren merasa kehilangan. Karena belum kenal namanya, ia menyebut Luthien Tinuviel, burung bulbul penyanyi (di buku disebut putri senja...duh Tolkien <3).

Menjelang musim semi Luthien kembali ke Neldoreth untuk menumbuhkan bunga2 dan mencairkan sungai yg beku. Beren yg ngeliatnya langsung manggil, "Tinuviel! Tinuviel!" Luthien ngeliat dan, well, singkat cerita, langsung jatuh cinta.

Selama musim semi dan musim panas mereka bersama2 di hutan Neldoreth. Terus Luthien bawa Beren menghadap orangtuanya.

Begitu tahu pacar anaknya manusia, Thingol langsung murka dan sempat sadis ngatain Beren keturunan rendahan, mata2 dan budaknya Morgoth. Beren, tersengat, nunjukin cincin Barahir dan cerita reputasinya selama ini dalam ngelawan Morgoth. 

Terus Thingol, ngerasa ini suatu kesempatan untuk ngegagalan pernikahan Luthien dan Beren ngasih syarat. Untuk menikahi Luthien, Beren harus membawakan silmaril yg saat itu terpasang di mahkota Morgoth di bentengnya di Thangorodrim.

Meski sempat mencemooh Thingol, "Semurah itu raja elf menghargai putrinya, seharga permata dan perhiasan..." dia nerima syarat itu. Lalu pergilah dia meninggalkan Luthien.

Beren lalu pergi ke Nargothrond (sepanjang jalan yg diawasi tentara elf Nargothrond, dia nunjukin cincin berlogo House of Finarfin itu supaya bisa lewat). Kepada Finrod dia nyeritain masalahnya. Finrod sadar udah takdirnya membalas utang budi pada keluarga Barahir seperti yg ia janjikan. Masalahnya, saat itu di Nargothrond sedang ada dua anak Feanor: Celegorm dan Curufin. Feanor dan keturunannya sudah bersumpah akan merebut kembali silmaril, kalo perlu perang saudara dng klan elf lain untuk mendapatkannya.

Waktu Celegorm dan Curufin tau rencana Finrod ngebantu Beren ngerebut silmaril, mereka ngancem bakal angkat senjata. Tapi Finrod keukeuh akan membantu Beren dan melepas mahkotanya. Ia memberi kesempatan pada pasukannya untuk ikut dan 10 mengajukan diri. Salah satunya, Edrahil, memungut mahkota Finrod dan bilang mahkota itu disimpan aja, karena Finrod masih raja Nargothrond apa pun yg terjadi. Finrod kemudia menunjuk adiknya Orodreth untuk memimpin Nargothron selama ia pergi dengan Beren.

Dengan ilmunya, Finrod membuat dirinya, Beren dan kesepuluh pengawalnya supaya kelihatan seperti orc dan bisa melewati teritori musuh tanpa mencurigakan. Tapi tetep aja ternyata mereka menarik perhatian Sauron karena saat melewati wilayahnya, mereka buru2 dan nggak lapor komandan.

Sauron kemudian menghadang rombongan mereka dan adu kekuatan (dengan adu nyanyian--there I said it) dengan Finrod. Tapi akhirnya Finrod takluk dan samaran mereka dilucuti. Cuma, meski Sauron bisa lihat mereka elf dan manusia, dia nggak kenal namanya dan apa tujuannya. Ia berusaha mengorek info, tapi pengawal Finrod sangat setia. Akhirnya mereka dijebloskan ke penjara bawah tanah yg gelap. Sesekali datang werewolf menakut2i mereka, tapi tetep nggak ada yg buka mulut. Satu2 pengawal Finrod dimakan werewolf.

Sementara itu Luthien nggak tinggal diam. Dia berencana minggat untuk nolong Beren. Tapi niatnya ketauan Daeron, penyanyi istana yg naksir dia dan pencipta lagu2 yg biasa dia nyanyiin. Daeron berusaha menggagalkan niat Luthien dengan mengurungnya di puncak pohon Hirilorn dijaga pengawal di bawahnya.

Dengan kesaktian magisnya Luthien membuat rambutnya tumbuh panjang sekali. Dari rambut ini dia tenun jubah yg kemudian diberi jampi untuk membuat tidur siapa pun yg kena. Dari sisa helai rambutnya dia buat tali untuk mengulurkan jubahnya bikin pengawalnya tidur. Dengan cara ini dia lolos dari penjara di puncak pohon.

Di perjalanan dia papasan dng Celegorm dan Curufin yg sedang patroli karena dengar banyak werewolf berkeliaran. Celegorm membawa anjingnya, Huan.

Huan bukan anjing sembarangan. Dia dibawa dari Undying Land ketika Feanor dan keluarganya membangkang dan hijrah ke Middle-earth mengejar Morgoth yg mencuri silmaril. Huan ini pemberian Orome, vala para satwa liar, jadi kayak mearas, punya kesaktian sendiri.

Luthien ngira dia bisa percaya sama Celegorm dan Curufin, yg berbohong dan bilang Beren ada di Nargothrond. Luthien ikut bersama mereka, tapi malah dikurung. Tiap malam selama dikurung itu Huan tidur di luar penjaranya dan Luthien cerita soal Beren sambil ngusap2 anjing itu. Sementara itu Celegorm dan Curufin menghasut elf2 Nargothrond sambil berusaha menyingkirkan Orodreth dari tahtanya.

Akhirnya suatu hari Huan ngebawain jubah Luthien dan mereka berdua kabur, Huan membiarkan dirinya ditunggangi Luthien supaya bisa lebih cepat sampai ke Tol-in-Gaurhoth, markas Sauron di mana Beren dikurung. 

Di Tol-in-Gaurhoth tinggal Beren dan Finrod yg masih idup di penjara bawah tanah. Waktu datang werewolf lagi, Finrod mengerahkan sisa tenaganya sampai putus rantainya, lalu ngelawan werewolf itu dng tangan dan taringnya sendiri sampai werewolfnya mati. Tapi Finrod sendiri luka parah dan setelah pamitan pada Beren, ia pun gugur. (Finrod... Y_Y)

Luthien sampai di Tol-in-Gaurhoth dan nyanyi. Beren awalnya mikir dia mimpi tapi dia balas nyanyo ttg bintang2 yg diciptakan Varda. Luthien jadi tau Beren masih idup. 

Sauron mulai ngelepas werewolf satu2 untuk nyerang Luthien, tapi semua dihajar Huan sampai mati. Terakhir Sauron ngirim biangnya werewolf, Draugluin. Ini pun diganyang oleh Huan, tapi masih sempat kembali ke Sauron dan lapor, "Huan datang!" sebelum mati.

Akhirnya Sauron sendiri keluar untuk ngelawan Luthien. Saking menakutkannya Sauron dan saking bau napasnya (sumpah, nggak bohong, emang begitu ceritanya di buku), Luthien nyaris pingsan. Tapi jubah ajaibnya sekelebat menerpa Sauron, yg langsung ngantuk. Saat Sauron meleng, Huan menyerang. Dan saat itu Luthien nge-skak mat Sauron, dan ngancem, "Kalo kamu nggak mau kehilangan badan dan kembali kepada tuanmu cuma roh tanpa wujud buat diketawain, serahkan kontrol benteng ini padaku!" Sauron nyerah dan memberikan kendali atas Tol-in-Gaurhoth pada Luthien, lalu, dalam wujud kelelawar vampir terbang pergi.

Luthien lalu merobohkan dinding2 markas Sauron. Elf2 yg jadi tawanannya keluar satu2, tapi Beren nggak ada. Luthien akhirnya menemukan Beren di sisi jenazah Finrod.

Mereka menguburkan Finrod di pulau itu lalu pergi ke arah Doriath. Huan, masih setia sama tuannya, kembali pada Celegorm.

Sementara itu elf2 mantan tahanan Sauron tiba di Nargothrond dan dari mereka tersebar kabar bahwa Sauron dikalahkan perempuan, sementara elf sakti seperti anak2 Feanor nggak ngapa2in, bukan karena takut, tapi karena akal bulus.

Rakyat Nargothrond pun berpaling dari Celegorm dan Curufin dan kembali nurut sama Orodreth. Celegorm dan Curufin diusir dan mereka pergi ke tempat abang mereka Maedhros.

Tapi di tengah jalan mereka ngeliat Luthien dan Beren jalan kaki. Celegorm berniat nabrak Beren, dan Curufin nyamber Luthien, tapi Huan kemudian meninggalkan tuannya dan menyelamatkan Beren. Beren ngambil kuda Curufin untuk Luthien. Tapi Curufin masih culas dan memanah ke arah Beren. Huan ngejar mereka sampai jauh, lalu kembali bawa herbal obat buat luka Beren.

Setelah Beren sehat lagi, diam2 dia ninggalin Luthien yg sedang tidur, karena ingat sumpahnya untuk kembali ke Thingol dng silmaril dlm genggaman.

Yg dia nggak tau, begitu Luthien bangun dia langsung berusaha ngejar, bareng Huan. Huan sempat mampir ke bekas markas Sauron. Di sana dia ngambil kulit werewolf Draugluin dan nyuruh Luthien pake kulit kelelawar vampir raksasa Thuringwethil yg dulunya adalah pembawa pesan Sauron. Dng menyamar sebagai werewolf dan vampir mereka pergi ke Thangorodrim.

Pas sampe di sana, awalnya Beren kaget ngeliat Luthien datang. Tapi Huan, yg bisa ngomong hanya tiga kali, ngasih nasihat untuk ketiga kalinya, nyuruh Beren untuk menerima bantuan karena udah takdirnya. Lalu Huan menyuruh Beren pake kulit Draugluin supaya bisa nyamar ke dalam sebagai werewolf.

Di Thangorodrim ada werewolf keturunan Draugluin yg dibesarkan sendiri sama Morgoth dng dikasih makan daging makhluk idup. Nama werewolf ini Carcharoth. Awalnya dia curiga karena denger2 Draugluin udah mati. Tapi Luthien nyuruh dia tunduk, dan karena Luthien keturunan maia, Carcharoth tunduk. Luthien dan Beren masuk ke balairung Morgoth, Beren pura2 jadi anjing, nyelusup ke kolong singgasana Morgoth. Luthien nyanyi lagu yg bikin semua makhluk di situ tertidur. Morgoth sendiri sampe jatuh ke lantai saking pulasnya. Luthien lalu membangunkan Beren dan Beren mencongkel salah satu silmaril dng belatinya Angrist. Tadinya Beren mau congkel dua yg lain, tapi karena kedengaran dentingnya, Morgoth bangun. Panik, Luthien dan Beren kabur. Mereka dihadang Carcharoth di luar, sementara Luthien udah terlalu lelah. Beren nunjukin silmaril ke Carcharoth, berharap anjing itu bakal takut, tapi malah dicaplok tangannya.

Cuma Carcharoth langsung ngerasa silmaril itu ngebakar perutnya. Saking sakitnysa sampe dia jadi gila dan lari ke mana2, nyerang segala yg menghalangi jalannya, nggak pandang bulu.

Burung dan satwa yg selalu mengawasi Beren sadar Beren udah kepepet banget. Maka turun elang2 raksasa dari puncak Crissaegrim dan mereka membawa Beren dan Luthien dari gerbang markas Morgoth kembali ke Doriath.

Di Doriath, Beren bilang dia udah menggenggam silmaril, tapi baru ngeh tangannya yg megang silmaril udah ilang. Thingol jadi kasihan dan akhirnya merestui perjodohannya dng Luthien.

Tapi terus Doriath gempar karena Carcharoth yg gelap mata lantaran nelan silmaril berhasil masuk menerobos lingkaran perlindungan Girdle of Melian. Beren, Thingol, tentara Doriath Mablung dan Beleg Strongbow serta Huan keluar memburu Carcharoth. Mereka menemukannya sedang minum, karena silmaril di perutnya bikin dia selalu haus.

Huan, nggak sabaran, berusaha nyerang. Tapi Carcharoth mengelak dan nyerang Thingol. Beren pasang badan melindungi mertuanya dan luka parah digigit. Huan lalu bertarung dng Carcharoth sampai C mati, tapi Huan sendiri luka parah dan akhirnya mati.

Beleg menyayat perut Carcharoth dan mengeluarkan silmaril dari situ. Silmaril ini nantinya dijadikan kalung yg diwariskan ke anak keturunan Beren dan Luthien dan akhirnya dibawa ke Undying Land saat Earendul meminta pengampunan para Valar dan mohon bantuan untuk mengalahkan Morgoth.

Beren dan jenazah Huan dibawa ke Doriath. Luthien menatap mata Beren dan minta jangan pergi dulu sebelum bisa ketemu lagi di alam setelah mati. Akhirnya Beren menghembuskan napas terakhir dan Luthien meninggalkan dunia menuju Halls of Mandos.

Setelah mati manusia nggak berakhir di Halls of Mandos. Ini tempat elf merenung sebelum, kalau mau dan direstui, kembali hidup. Manusia harus mati dan setelah mati tiba di pantai Outer Sea dari mana mereka pergi tanpa pernah kembali lagi.

Di Halls of Mandos Luthien menyanyi lagi dan konon keindahan lagu ini cuma dikalahkan lagu yg diciptakan Eru dan para Ainur. Dalam lagu itu terungkap penderitaan dua kaum: elf dan manusia. Luthien berlutut dan menangis di depan Mandos, sampai Mandos, untuk pertama dan terakhir kalinya, tergerak hatinya. 

Tapi Mandos nggak bisa menahan manusia dari kematian, karena ajal itu hadiah Eru untuk kaum manusia. Akhirnya Mandos konsultasi dng Manwe, dan Luthien diberi dua pilihan: tinggal di Valinor di mana ia akan bahagia dan lupa akan Beren, atau kembali bersama Beren ke Middle-earth, tapi suatu saat akan mati, dng kata lain, jadi mortal, jadi manusia, sama seperti Beren. 

Luthien ambil pilihan kedua, dan ia dan Beren kembali ke Middlee-earth, dan tinggal sementara di sana sampai ajal menjemput.

Kisah Luthien ini diabadikan dlm lagu Lay of Leithian (Escape from Bondage--Lepas Dari Belenggu) yg dinyanyiin Aragorn di FoTR. Kisah Aragorn dan Arwen memang mirip Beren dan Luthien, dan pilihan Arwen, akhirnya, juga sama dng pilihan Luthien. 


Tambahan oleh Dini Nitihardjo:
Sauron waktu nyerang Huan ngambil wujud serigala karena dia tau Huan ditakdirkan mati setelah duel dengan serigala. Tapi yg Sauron gak tau, ternyata takdirnya itu spesifik, Huan matinya setelah duel dengan Carcaroth. Jadi Sauron kecele, salah strategi waktu ngelawan Huan dengan wujud serigala dan sebenernya Huan yg sudah nyekek Sauron tinggal ngegraok lehernya dan Sauron bakal mati. Sauron berusaha melepaskan diri dari Huan dengan mengubah wujud dari serigala jadi ular, trus berubah lagi jadi monster dan akhirnya berubah lagi jadi wujud yg biasa dia pakai, tapi Sauron tetep gak bisa ngelepasin diri dari cengkraman Huan tanpa benar2 meninggalkan wujudnya. Sayangnya Sauron masih pegang leverage Beren di dungeonnya, jadi bisa nego utk bisa dilepas. Setelah dilepas Huan, Sauron ngambil wujud vampir dan langsung kabur ke Taur-nu-Fuin.

Sunday, January 27, 2013

QUENTA SILMARILLION: Sejarah Silmarili


oleh Poppy D. Kartadikaria


Bab 2: Tentang Aulë dan Yavanna


Dikisahkan bahwa kaum Dwarf diciptakan oleh Aulë dalam kegelapan Middle-earth, karena Aulë sangat menanti-nantikan kedatangan Anak-Anak Ilúvatar untuk dijadikan murid yang bisa diajarinya seni tempa, tapi nggak sabaran nunggu Ilúvatar selesai bikin desain mereka. Karena Aulë tidak tahu bentuk seperti apa yang bakal dimunculkan Ilúvatar, maka dia membentuk dwarf seperti sekarang ini. Aulë juga beralasan bahwa makhluk yang menempati Bumi harus kuat dan tahan banting, karena Melkor masih punya kuasa di sana. Tapi takut Valar lain ngadu ke Eru, dia bekerja diam-diam. Maka dia menciptakan Tujuh Leluhur Dwarf dalam aula besar di bawah gunung di Middle-earth.

Ilúvatar jelas tahu perbuatan Aulë (tanpa perlu ada yang ngadu), dan begitu Aulë selesai membentuk dwarf serta memberi mereka bahasa yang diciptakannya sendiri, Ilúvatar bicara kepadanya, bikin Aulë mendadak beku ketakutan, “Ngapain kamu? Kenapa kamu menciptakan sesuatu yang berada di luar kekuatan dan kuasamu sendiri? Aku cuma memberi kamu kuasa atas diri kamu sendiri, nggak lebih dari itu. Jadi makhluk ciptaan kamu hanya bisa bergerak jika kamu perintahkan bergerak, dan kalau pikiran kamu lagi ngelantur, mereka bakal mematung. Memangnya kamu mau mereka jadi seperti itu?”

Bayangkanlah Aulë nunduk malu sambil mainin jempol. “Tapi kan aku nggak pengin menguasai apa-apa. Aku cuma pengin ada makhluk selain Ainur, yang bisa diajarin dan bisa menghargai indahnya Eä yang kauciptakan. Arda masih lega banget, banyak makhluk yang bisa tinggal di sana, tapi sekarang masih kosong dan nggak asyik. Karena nggak sabaran, aku bertindak kelewatan. Tapi aku kan anakmu, sang Pencipta, like father like son dong, aku juga pengin menciptakan sesuatu. Bukan maksudku melanggar dan sok pinter. Jadi aku mesti gimana supaya kau nggak marah lagi? Sebagai seorang putra, kupersembahkan ciptaanku ini kepadamu, yang kubuat dengan tanganku sendiri, tanganku yang kauciptakan. Atau lebih baik kuhancurkan saja hasil pekerjaan pradugaku ini?”

Setelah merengek-rengek lebay seperti itu, Aulë mengambil palu godam dan sambil nangis sesegrukan siap menghancurkan Tujuh Leluhur Dwarf. Tapi Ilúvatar kasihan padanya, memahami hasratnya dan memaafkannya karena Aulë segera menyesal. Lagi pula, ketujuh dwarf mengerut ketakutan begitu palu diangkat Aulë, memohon supaya mereka nggak dijadikan daging cincang. Suara Ilúvatar terdengar lagi, “Aku terima persembahanmu. Lagian udah kepalang, sekarang mereka sudah punya nyawa sendiri.”

Aulë kegirangan dan berterima kasih. “Semoga Eru memberkati pekerjaanku dan memperbaikinya!” Tapi Eru bilang, “Enak aja! Aku mengizinkan mereka hidup, tapi nggak bakal bentuk mereka kuperbaiki lagi. Dan mereka nggak boleh nongol duluan sebelum kaum Firstborn. Ciptaanmu ini sekarang harus tidur dalam kegelapan di bawah bebatuan dan menunggu, meskipun lama sekali. Setelah Firstborn ciptaanku kuturunkan ke Bumi, maka ciptaanmu akan kubangunkan. Nanti bakal sering terjadi perselisihan antara anak-anakmu ini, yang jadi anak angkatku, dengan anak-anak ciptaanku sendiri. Ngerti?”

Maka Aulë membawa Tujuh Leluhur Dwarf, ditidurkanlah mereka di tempat-tempat yang terpisah jauh, kemudian dia pulang ke Valinor, menunggu tahun demi tahun demi tahun...

Karena di zaman itu Melkor masih kuat, Aulë menciptakan dwarf sebagai makhluk tahan gempa. Mereka sekuat batu, keras kepala, kalau berteman sangat setia dan kalau bermusuhan susah diajak cantelan kelingking lagi. Tubuh mereka bisa menanggung sakit, lapar dan siksaan lebih baik daripada ras mana pun; mereka hidup lama, jauh lebih lama daripada manusia, tapi tidak abadi. Kepercayaan kaum dwarf adalah, jika mereka mati, Aulë sang pencipta mereka (yang mereka sebut Mahal) akan membawa mereka ke Mandos, di mana ada balairung terpisah untuk kaum mereka sendiri. Kemudian mereka akan disucikan oleh Ilúvatar dan ditempatkan di antara Anak-Anak yang lain setelah Kiamat. Maka tugas mereka adalah berbakti pada Aulë, membantunya membentuk kembali Arda setelah Pertempuran Terakhir. Mereka juga percaya Tujuh Leluhur Dwarf akan hidup kembali dalam keturunan mereka dan sekali lagi menggunakan nama-nama kuno mereka: Durin-lah yang paling terkenal di sepanjang zaman, moyang mereka yang paling bersahabat dengan kaum elf, yang istananya berada di Khazad-dûm.

Sewaktu menciptakan dwarf, Aulë ngumpet dari Valar yang lain, tapi sekarang dia ngaku ke Yavanna. Lalu Yavanna bilang, “Untung Eru maafin kamu, dan aku senang kamu senang. Tapi karena kamu ngumpetin ini dari aku, maka anak-anakmu itu nggak akan terlalu menyukai hal-hal yang aku cintai. Mereka akan lebih mencintai barang-barang buatan mereka sendiri. Mereka bakal menggali dan tidak peduli segala hal yang tumbuh di permukaan tanah. Banyak pohon yang akan dilukai besi mereka.” Istri di mana-mana sama aja, nggak manusia, nggak Vala, manyun kalo suami berbuat sesuatu diam-diam.

Aulë bela diri, “Tapi Anak-Anak Ilúvatar juga bakal seperti itu, mereka perlu makan dan perlu membangun. Eru bakal memberi mereka tempat tinggal, dan mereka akan menggunakan semua yang bisa mereka temukan di Arda, meski Eru takkan membiarkan mereka buka lahan sembarangan tanpa menghargai pekerjaanmu sama sekali.”

“Asalkan hati mereka nggak diracunin Melkor,” kata Yavanna. Dia jadi ketar-ketir memikirkan apa yang bakal terjadi di Middle-earth nanti. Maka dia menghadap Manwë, bukan bermaksud ngaduin suaminya, tapi bertanya apakah benar Anak-Anak Ilúvatar nanti akan menguasai hasil pekerjaannya dan berbuat semau mereka.

Manwë berkata, “Benar. Tapi kenapa kamu nanya begitu?”

Yavanna jadi sedih. “Aku cemas. Aku sangat mencintai hasil pekerjaanku. Tidak cukupkah Melkor ngacak-ngacak? Tidak adakah pekerjaanku yang bakal aman dari kekuasaan kaum lain?”

Manwë bertanya, “Kalau bisa, pekerjaanmu yang mana yang ingin kamu selamatkan?”

“Semuanya punya nilai,” kata Yavanna. “Tapi kaum kelvar (hewan) bisa kabur dan membela diri, sementara kaum olvar (tanaman) tidak bisa. Di antara olvar aku paling mencintai pohon yang butuh waktu lama untuk tumbuh, tapi bisa ditumbangkan sekejap mata. Kalau pohon itu tidak memberi buah, takkan ada yang menangisinya jika ditebang. Aku ingin pohon bisa bicara atas nama semua tumbuhan dan menghukum mereka yang merusak tanaman.”

“Kamu mabok?” tanya Manwë.

Yavanna ngotot, “Tapi itu semua disebut dalam Lagu. Sementara kau dan Ulmo mengerjakan udara, awan dan mencurahkan hujan, aku membuat ranting-ranting pohon tumbuh untuk menyambutnya, dan beberapa pohon bernyanyi kepada Ilúvatar di sela-sela angin dan hujan.”

Manwë jadi bengong, dan dalam renungannya Ilúvatar memberi wangsit. Kemudian Manwë menyampaikan kepada Yavanna kata-kata Ilúvatar: bahwa saat Anak-Anak Ilúvatar dibangunkan, maka pikiran Yavanna pun akan diwujudkan, dan pikiran itu akan memanggil spirit-spirit dari kejauhan, kemudian spirit-spirit tersebut akan berkeliaran di antara kelvar dan olvar, beberapa bahkan akan merasuki hewan dan tanaman, dan mereka akan dihormati; jika mereka diperlakukan tidak adil, kemarahan mereka akan menakutkan. Tapi hanya untuk sementara, saat kaum Firstborn masih berkuasa, dan kaum Secondborn masih muda. Namun pikiran Yavanna dan Manwë pada dasarnya bersinggungan, sama-sama menunggang angin bagaikan burung-burung raksasa melesat di atas mega. Ilúvatar mendengar semua itu dan akan mewujudkan segalanya. Maka sebelum Anak-Anak Ilúvatar bangkit, akan terbang Elang-Elang Penguasa Daerah Barat.

Yavanna girang mendengar itu, kemudian dia berdiri dan menengadah ke langit, berkata, “Pohon-pohon Kementári akan tumbuh begitu tinggi sehingga Elang-Elang sang Raja Arda bisa bersarang di puncaknya!”

Manwë nggak mau kalah, berdiri lebih menjulang daripada Yavanna, dan berkata, “Tidak. Hanya pohon-pohon Aulë yang akan tumbuh cukup tinggi. Elang-elang akan bersarang di puncak gunung, dan elang-elang akan mendengar suara mereka yang membutuhkan dan berdoa kepada kita. Namun di dalam hutan para Gembala Pohon akan berkuasa.”

Setelah mendapat pencerahan dari Manwë, Yavanna pulang ke Aulë. Suaminya sedang asyik menempa di bengkelnya. “Eru sangat murah hati,” kata Yavanna, jumawa karena merasa dibela. “Anak-anakmu harus waspada! Karena di hutan nanti akan ada kekuatan besar yang bakal ngamuk kalau mereka bikin ulah.”

“Tetap saja mereka bakal butuh kayu,” kata Aulë cuek sambil lanjut menempa.

Dalam sejarah Arda, ini adalah percekcokan rumah tangga pertama di dunia...

QUENTA SILMARILLION: Sejarah Silmarili


oleh Dini Nitihardjo


Bab 1 : Tentang Permulaan Zaman


Dikisahkan bahwa Perang Pertama dimulai bahkan sebelum Arda selesai dibangun dan belum ada yang tumbuh dan berjalan di permukaannya dan untuk sekian lama Melkor selalu menang. Tapi di tengah-tengah pertempuran, datanglah spirit dengan kekuatan hebat dan keberanian besar membantu para Valar demi mendengar adanya perang di Kerajaan Kecil; dan Arda dipenuhi oleh suara tawanya. Demikianlah Tulkas Sang Perkasa datang, yang mana murkanya laksana angin kencang yang membuyarkan awan dan kegelapan yang melingkupi Arda; dan Melkor melarikan diri dari kemurkaan dan tawa Tulkas, dan meninggalkan Arda, dan akhirnya ada kedamaian untuk waktu yang lama. Tulkas kemudian menetap dan mejadi salah satu Valar di Kerajaan Arda, tapi Melkor merutuk dalam kegelapan dan membenci Tulkas sejak saat itu.

Di masa damai itu para Valar membenahi lautan, daratan dan pegunungan, dan Yavanna akhirnya bisa menanam benih yang sudah lama ia rancang. Dan di saat api-api padam atau terkubur dalam bukit-bukit purba, dibutuhkanlah cahaya. Atas permohonan Yavanna, Aulë menempa dua lampu besar untuk penerangan Middle-earth yang dibangun di tengah lautan. Kemudian Varda mengisi lampu-lampu itu dengan cahaya dan Manwë mensucikannya dan para Valar menaruhnya di atar pilar-pilar yang tinggi dan megah, melebihi ketinggian gunung-gunung. Satu lampu pasang dekat sebelah utara Middle-earth dan diberi nama Illuin dan satunya lagi dipasang di selatan dan diberi nama Ormal. Cahaya dari Lampu-lampu para Valar menerangi Bumi, sehingga semuanya terang seperti hari yang tak pernah berganti.

Kemudian bibit yang ditanam Yavanna dengan cepat menjadi tunas dan berkembang dan kemudian munculah beragam tumbuhan besar dan kecil, lumut, rumput dan pakis besar, serta pepohonan yang pucuknya bermahkota awan bagaikan pegunungan hidup, tapi akarnya diselimuti dalam temaram hijau. Dan hewan liar muncul dan hidup di ladang rumput atau di sungai-sungai dan danau-danau, atau berjalan dalam hutan. Sementara ini belum ada bunga yang berkembang atau burung yang berkicau karena mereka masih menunggu saatnya dalam sanubari Yavanna, namun imajinasi Yavanna sangatlah kaya dan tidak ada tempat lain yang lebih subur dari bagian paling tengah Bumi, di mana cahaya kedua Lampu bertemu dan membaur. Dan di sanalah, di Pulau Almaren di Great Lake, tempat tinggal pertama para Valar ketika semua masih muda dan warna hijau yang baru dibuat merupakan keajaiban di mata para pembuatnya, dan mereka puas untuk waktu yang lama.

Suatu saat ketika para Valar beristirahat dari pekerjaan mereka sambil mengamati pertumbuhan dan berkembangnya segala sesuatu yang sudah mereka rancang dan mulai, Manwë memerintahkan pesta besar dan para Valar beserta pengawal mereka datang memenuhi panggilannya. Tapi Aulë dan Tulkas letih karena ketrampilan Aulë dan kekuatan Tulkas dikeluarkan tanpa henti sejak mereka mulai bekerja. Melkor mengetahui apa saja yang sudah dilakukan para Valar, karena ia punya teman rahasia dan mata-mata di antara para Maiar yang bekerja untuknya. Jauh dalam kegelapan Melkor diliputi kebencian dan kecemburuan hasil kerja para Valar, yang dia inginkan untuk menjadi taklukannya. Maka dikumpulkanlah para spirit dari luar Eä yang telah disesatkan untuk menjadi pengikutnya dan dia merasa dirinya sudah kuat. Merasa waktunya telah tiba, mendekatlah dia ke Arda dan saat melihat dari atas keindahan Bumi di musim Semi, hal ini semakin mengisinya dengan kebencian.

Para Valar berkumpul di Almaren tanpa rasa kuatir, dan karena cahaya Illuin mereka tidak melihat bayangan di Utara yang ditebarkan Melkor dari kejauhan, karena ia telah berubah menjadi segelap Malam dalam Kehampaan. Dan dikisahkan dalam lagu-lagu bahwa dalam Pesta Musim Semi Arda itu, Tulkas memperistri Nessa, adik Oromë, dan ia menari di hadapan para Valar di atas hamparan rumput hijau Almaren.

Kemudian Tulkas tidur, karena lelah dan puas dan Melkor merasa saatnya telah tiba. Maka ia menyelinap dari balik Dinding Malam dengan pasukannya, dan datang ke Middle-earth jauh di utara; dan para Valar tidak menyadarinya.

Kemudian Melkor mulai membangun benteng yang besar, jauh di dalam Bumi, di bawah pegunungan gelap di mana pancaran Illuin dingin dan redup. Benteng tersebut bernama Utumno, dan meski para Valar belum mengetahui keberadaannya, kejahatan Melkor dan hawar kebenciannya mengalir keluar, dan Musim Semi di Arda pun rusak. Tumbuhan hijau menjadi sakit dan busuk, sungai-sungai dipenuhi ganggang dan kotoran, rawa-rawa terbentuk, busuk dan beracun, menjadi tempat berkembang biak lalat, sarang ketakutan; dan hewan-hewan menjadi monster bertanduk dan mewarnai tanah dengan darah. Baru kemudian para Valar menyadari bahwa Melkor mulai berulah lagi dan mereka mencari tempat persembunyiannya. Tapi Melkor yang sangat yakin dengan kekuatan Utumno dan para pembantunya, tiba-tiba melancarkan serangan terhadap para Valar yang belum siap. Melkor menyerang Illuin dan Ormal, meruntuhkan pilar-pilar dan memecahkan lampunya. Saat meruntuhkan pilar-pilar tersebut, daratan patah dan laut mengamuk; dan saat lampu-lampu tersebut pecah, api yang merusak merebak ke penjuru Bumi. Bentuk Arda dan simetri lautannya pun rusak saat itu, hingga rancangan pertama para Valar tidak bisa lagi dipulihkan.

Dalam kekalutan dan kegelapan Melkor melarikan diri dan bersembunyi di Utumno, meskipun sebenarnya dia takut karena di atas amukan lautan dia mendengar suara Manwë sekencang angin dan tanah bergetar di bawah kaki Tulkas. Saat itu para Valar tidak bisa menangkapnya karena sebagian besar kekuatan mereka dibutuhkan untuk mengendalikan kekacauan Bumi dan menyelamatkan hasil karya mereka yang bisa diselamatkan dari reruntuhan; dan setelahnya mereka tidak berani membangun Bumi lagi, sampai mereka tahu di mana Anak-anak Ilúvatar akan bermukim, yang belum tiba saatnya untuk datang dan masih disembunyikan dari para Valar.

Maka berakhirlah musim Semi Arda. Tempat tinggal para Valar di Almaren hancur lebur, dan mereka tidak punya tempat tinggal yang permanen di muka Bumi. Karena itulah mereka meninggalkan Middle-earth dan pergi ke Land of Aman, di ujung paling barat daratan di perbatasan bumi, karena pantai baratnya menghadap Lautan Luar, yang disebut oleh kaum Elf Ekkaia, mengelilingi Kerajaan Arda. Seluas apa lautan itu tidak ada yang tahu selain para Valar; dan setelah itu adalah Dinding Malam. Pantai timur Aman adalah paling ujung Belegaer, the Great Sea di Barat dan sejak Melkor kembali ke Middle-earth sementara mereka belum berhasil menangkapnya, para Valar memperkuat kediaman mereka, dan di atas pantai-pantai Aman mereka membangun Pelóri, Pegunungan Aman, tertinggi di muka Bumi. Dan di antara pegunungan Pelóri terdapat puncak tertinggi di mana Manwë menetapkan tahtanya. Kaum Elf menyebutnya gunung suci itu Taniquetil dan Oiolossë Putih Abadi, dan Elerrína Bermahkota Bintang-bintang, dan banyak nama lagi; tapi kaum Sindar menyebut tempat itu dalam bahasa mereka sebagai Amon Uilos. Dari aula mereka di atas Taniquetil, Manwë dan Varda dapat melihat Bumi bahkan sampai ke ujung paling Timur.

Di balik dinding Pelóri para Valar menetapkan wilayah kekuasaan mereka di bagian yang disebut Valinor, dan di sanalah rumah-rumah, kebun-kebun dan menara-menara mereka. Di pulau yang dijaga itu para Valar mengumpulkan cahaya dan hal-hal yang terindah yang dapat diselamatkan dari runtuhan; dan banyak lagi hal-hal indah yang baru dibuat, dan Valinor menjadi lebih indah bahkan dibanding Middle-earth saat musim Semi Arda; dan tanah itu diberkati karena para Dewa tinggal di sana, dan tak ada yang memudar atau meranggas, juga tak ada noda di atas bunga atau daun di pulau itu, atau kebusukan atau penyakit atas semua yang hidup; karena semua batu dan airnya disucikan.

Ketika Valinor selesai dibentuk dan kediamana para Valar dibangun, di tengah-tengah dataran jauh dari pegunungan para Valar membangun kota mereka, Valmar dengan banyak lonceng. Di hadapan gerbang baratnya terdapat anak bukit hijau, Ezellohar, yang juga disebut Corollairë; dan Yavanna memberkatinya, dan ia duduk di sana di atas hamparan rumput hijau dan menyanyikan lagu kekuatan, yang mana di dalamnya terkandung semua buah pikirannya atas segala sesuatu yang tumbuh di bumi. Tapi Nienna merenung dalam sunyi, dan menyirami anak bukit tersebut dengan air matanya. Saat itu para Valar berkumpul untuk mendengar lagu Yavanna, dan mereka duduk dalam keheningan dalam singgasana dewan in Máhanaxar, Lingkaran Takdir dekat gerbang emas Valmar dan Yavanna Kementári bernyanyi di hadapan mereka dan mereka mengamati.

Dan saat mereka mengamati, di atas anak bukit muncul dua tunas lampai; dan keheningan menyelimuti seluruh permukaan bumi saat itu, tidak ada suara apa pun terdengar kecuali nyanyian Yavanna. Di bawah pengaruh lagunya dua anak pohon tersebut tumbuh cantik dan berbunga; maka demikianlah Dua Pohon Valinor terbangun. Dari semua yang dibuat Yavanna, kedua pohon itulah yang paling mahsyur, dan mengenai nasib kedua pohon itulah semua kisah-kisah Jaman Eldar terajut.

Satu pohon berdaun hijau gelap yang di bawahnya berwarna perak berkilau, dan dari setiap bunganya yang tak terhitung, setetes embun bercahaya perak selalu jatuh, dan tanah di bawahnya tertutup oleh bayangan dedaunannya yang bergoyang. Pohon satunya lagi berdaun hijau muda seperti tunas yang baru terbuka, ujung-ujungnya berwarna emas berkilau. Bunga-bunganya yang bergoyang di tiap ranting dalam kelompok-kelompok berwarna kuning menyala, masing-masing berbentuk tanduk menyala yang meneteskan hujan emas ke tanah di bawahnya; dan bunga-bunga kedua pohon tersebut memancarkan kehangatan dan cahaya yang terang. Telperion sebutan untuk satu pohon itu di Valinor, dan Silpion, dan Ninquelótë, dan banyak lagi nama lainnya; sementara satunya disebut Laurelin, dan Malinalda, dan Culúrien, dan banyak nama lainnya lagi.

Selama tujuh jam masing-masing pohon bersinar penuh dan meredup kembali; dan tiap pohon bersinar satu jam sebelum pohon satunya meredup. Maka di Valinor terdapat dua waktu ketika cahaya lembut di mana kedua pohon meredup dan cahaya emas dan perak mereka berbaur. Telperion adalah pohon yang lebih tua dan tumbuh dan di jam di mana ia pertama bercahaya, fajar keperakan, para Valar menyebutnya Jam Pembukaan, dan menandai awalnya perhitungan masa kekuasaan mereka di Valinor. Maka pada jam keenam di Hari Pertama, dan di hari-hari berikutnya hingga Kegelapan Valinor, Telperion berhenti berbunga, dan pada jam keduabelas Laurelin. Dan tiap hari para Valar terdiri dari dua belas jam, yang berakhir dengan meredupnya cahaya, di mana Laurelin meredup namun Telperion berbunga. Namun cahaya yang terpancar dari kedua pohon bertahan lama, dan butiran embun Telperion dan hujan yang menetes dari Laurenin disimpan oleh Varda dalam bejana bagaikan danau berkilau, laksana sumur air dan cahaya. Maka dimulailah Hari-hari Ketentraman di Valinor, dan dimulai juga Penandaan Waktu.

Kemudian tiba saatnya yang ditetapkan oleh Ilúvatar untuk kedatangan the Firstborn, Middle-earth dilingkupi keremangan di bawah cahaya bintang yang diciptakan Varda di masa yang sudah terlupakan saat membangun Eä. Dan dalam kegelapan Melkor bersemayam, dan masih sering keluar dalam berbagai bentuk dan kekuasaan dan kengerian, dan ia menguasai dingin dan api, dari puncak-puncak pegunungan hingga perapian yang terdapat di bawahnya, dan segala jenis kekejian, kekerasan atau kematian merupakan hasil perbuatannya.

Dari keindahan dan ketentraman Valinor, para Valar jarang pergi melewati pegunungan ke Middle-earth, namun memberikan tanah yang terbentang melampaui Pelóri perhatian dan cinta mereka. Dan di tengah-tengah Kerajaan yang Diberkati terdapat rumah Aulë, dan di sana ia bekerja untuk waktu yang lama. Dalam pembuatan segala sesuatunya Aulë mengambil bagian utama, dan di sana ia membentuk banyak hal-hal yang indah dan bekerja baik secara terbuka dan diam-diam. Dari Aulë datanglah pengetahuan dan ajaran tentang Bumi dan hal-hal yang terkandung di dalamnya: apakah itu pengetahuan bagi mereka yang tidak membuat, tapi hanya ingin mengerti, atau pengetahuan seorang pengrajin: pemintal, pemahat kayu, dan pandai besi, juga petani dan peternak, meskipun yang terakhir ini dan semua yang berhubungan dengan sesuatu yang tumbuh dan berbuah juga harus menemui istri Aulë, Yavanna Kementári. Aulë lah yang disebut Sahabat kaum Noldor, karena dari dirinya mereka belajar banyak di kemudian hari, dan mereka adalah kaum yang paling terampil di antara para Elf; dan dengan cara mereka sendiri, mereka menambahkan banyak hal dari ajaran Aulë, sesuai bakat yang diberikan Ilúvatar kepada mereka. Kaum Noldor senang akan bahasa dan penulisan, dan dalam hal membentuk rajutan, lukisan dan pemahatan. Kaum Noldor juga yang pertama kali berhasil membuat permata, dan permata yang terindah adalah Silmarili, dan mereka hilang.

Manwë Súlimo, Vala tertinggi dan terkudus, duduk di perbatasan Aman, tanpa pernah melupakan Outer Lands dalam pikirannya. Tahtanya berada di puncak Taniquetil, tertinggi di antara gunung-gunung di dunia, berdiri di pinggir laut. Spirit dalam bentuk elang dan rajawali terbang hilir mudik di antara aulanya; dan mata mereka dapat melihat hingga ke kedalaman lautan, dan menembus gua-gua tersembunyi di bawah bumi. Begitulah mereka membawa kabar ke Manwë tentang apa yang terjadi di Arda; namun beberapa hal tersembunyi bahkan dari mata-mata Manwë dan para pelayan Manwë, karena di mana Melkor bertahta dalam pikiran gelapnya, bayangan yang tak dapat ditembus menaungi.

Manwë tidak pernah memikirkan kemuliaannya sendiri, pun tidak cemburu atas kekuasaan, melainkan memerintah semua dalam kedamaian. Vanyar adalah kaum elf yang paling dia cintai, dan darinya mereka mendapatkan lagu dan puisi; karena puisi adalah kesukaan Manwë dan lirik lagu adalah musiknya. Pakaiannya berwarna biru, dan biru pula api di matanya, dan tongkat kekuasannya terbuat dari safir, yang dibuat oleh kaum Noldor, dan ia ditunjuk sebagai patih Ilúvatar, Raja dunia para Valar, Elves dan Manusia, dan pimpinan pertahanan melawan kejahatan Melkor. Bersama Manwë tinggal Varda sang kirana, yang dalam bahasa Sindarin dijuluki Elbereth, Ratu para Valar, pembuat bintang-bintang mati, dan bersama mereka tinggal para spirit dalam ketentaraman.

Ulmo tinggal sendiri, dan ia tidak tinggal di Valinor, juga tidak pernah datang ke sana kecuali dibutuhkan dalam pertemuan penting; sejak awal ia tinggal di Outer Ocean, dan masih tinggal di sana. Dari sana ia mengatur semua aliran air, dan pasang surutnya, aliran sungai dan penambahan sumber-sumber air, menyaring semua tetes embun dan hujan di seluruh daratan di bawah langit. Di tempat-tempat dalam ia menuangkan pikirannya atas musik yang hebat dan mengerikan; dan gema musik tersebut menjalar melalui pembuluh-pembuluh dunia dalam kesedihan dan kegembiraan, yang mana kegembiraan tersebut berupa air mancur yang memancar di bawah sinar matahari, sementara mata air berada di sumur kesedihan jauh di dalam pondasi bumi yang tak terukur kedalamannya. Kaum Teleri belajar banyak dari Ulmo, dan karena inilah musik mereka mengandung kesedihan dan daya pikat mempesona. Salmar datang dengannya ke Arda, dialah yang membuat sangkakala Ulmo dan tak seorang pun yang pernah mendengar dapat melupakannya. Ossë dan Uinen juga datang bersama Ulmo ke Arda, dan mereka diberi kekuasan untuk mengatur gelombang dan arus Inner Seas, dan banyak lagi spirit lain yang tinggal bersama Ulmo. Maka atas kekuasaan Ulmo lah, kehidupan terus mengalir melalui celah-celah rahasia, bahkan di bawah kegelapan Melkor, dan Bumi tidak mati; dan bagi semua yang hilang dalam kegelapan atau berkelana jauh dari cahaya para Valar, telinga Ulmo tetap terbuka; juga ia tidak pernah mengabaikan Middle-earth, dan kehancuran atau perubahan apapun yang terjadi ia tidak pernah berhenti memikirkannya, dan tidak akan pernah hingga akhir jaman.

Di masa kegelapan itu Yavanna juga tidak mau begitu saja mengabaikan Outer Lands; karena semua yang tumbuh sangatlah disayanginya, dan dia meratapi pekerjaan yang sudah dimulainya di Middle-earth tapi dirusak Melkor. Maka kerap ia meninggalkan rumah Aulë dan padang rumput Valinor untuk menyembuhkan luka yang ditimbulkan Melkor; dan sekembalinya dari sana ia kan mendesak para Valar untuk memerangi kekuasan jahat Melkor yang harus mereka lakukan sebelum kedatangan the Firstborn. Dan Oromë sang penjinak hewan juga akan berkuda setiap saat dalam kegelapan hutan; sebagai pemburu kuat dia datang dengan tombak dan busur, memburu sampai mati monster-monster dan makhluk mengerikan dari kerajaan Melkor, dan kuda putihnya Nahar bersinar bagai perak dalam kegelapan. Maka Bumi yang sedang tidur bergetar di bawah derap tapak emasnya, dan dalam keremangan Oromë akan membunyikan sangkakalanya, Valaróma, di atas dataran Arda; yang gemanya memantul di pegunungan, mengusir kegelapan kejahatan, bahwa Melkor pun gemetar di Utumno, membayangkan angkara yang akan datang. Tapi setelah Oromë pergi, para hamba Melkor akan berkumpul kembali; dan daratan akan kembali dipenuhi oleh kejahatan dan tipu daya.

Sampai di sini segala hal mengenai tatanan Bumi dan para penguasanya di awal jaman sudah dijelaskan semua, sebagaimana bumi yang dikenal oleh Anak-anak Ilúvatar. Karena Elf dan Manusia adalah Anak-anak Ilúvatar; dan karena para Valar tidak sepenuhnya mengerti tema di mana Anak-anak tersebut masuk ke dalam Musik, maka tak satupun Ainur yang berani menambahkan rancangannya. Karena itulah para Valar menganggap diri mereka saudara tua dan pemimpin atas Anak-anak Ilúvatar, bukannya penguasa mereka; dan bahkan jika hubungan para Ainur dengan Elf dan Manusia mengeras sehingga memaksa saat mereka tidak mau dibimbing, jarang sekali hal ini berakhir baik, sebaik apapun maksud para Ainur. Hubungan para Ainur memang lebih banyak dengan Elf, karena Ilúvatar menciptakan pembawaan mereka mirip dengan para Ainur, meskipun lebih kecil dari segi kekuatan dan fisik; sedangkan kepada Manusia, ia memberikan karunia yang aneh.

Dalam hikayat disebutkan bahwa setelah kepergian para Valar kesunyian melanda, dan selama satu jaman Ilúvatar merenung sendiri. Kemudian dia berkata: ‘Aku mencintai Bumi, yang akan menjadi tempat tinggal untuk Quendi dan Atani! Quendi akan menjadi makhluk yang paling indah di antara makhluk bumi lainnya, dan mereka akan mendapatkan dan menerima dan memberikan lebih banyak lagi keindahan dibanding Anak-anakku yang lain; dan mereka akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar di bumi ini. Namun untuk Atani aku akan memberikan berkah baru.’ Maka untuk memenuhinya hati Manusia harus mencari melampaui bumi dan mereka tidak akan mendapatkan ketenangan selama waktu itu; tapi mereka akan mendapatkan kebajikan yang membentuk hidup mereka, di tengah-tengah kekuasan dan perubahan dunia, melampaui Musik para Ainur, yang mana bagaikan takdir untuk segalanya; dan atas segala tindakan mereka semuanya menjadi, dalam bentuk dan perbuatan, usai, dan dunia terpenuhi sampai bagian akhir dan terkecil.

Ilúvatar tahu bahwa Manusia, yang ditempatkan di tengah kekacauan kekuasan di bumi, akan sering menyimpang, dan tidak akan menggunakan berkahnya dalam harmoni; dan dia berkata: “Dalam waktunya mereka kan mendapatkan bahwa semua yang mereka lakukakan pada akhirnya akan hanya menunjang kebesaran karyaku.’ Namun para Elf merasa bahwa Manusia sering kali merupakan duka bagi Manwë, yang tahu paling banyak pikiran Ilúvatar; karena menurut para Elf, Manusia lebih mirip Melkor dibanding Ainur yang lain.

Dengan satu berkah kebebasan inilah anak-anak Manusia hanya hidup dalam kurun waktu yang singkat, dan tidak terikat dengan bumi, dan meninggalkannya langsung, ke mana para Elf tidak mengatahuinya. Sebaliknya para Elf akan terus tinggal hingga akhir jaman, dan kecintaan mereka atas Bumi dan seluruh dunia lebih singular dan tajam, dan dengan bertambahnya tahun dengan lebih berduka. Karena Elf tidak mati sampai pijakan bumi mati, kecuali mereka terbunuh atau terlalu berduka (kematian para Elf bisa disebabkan oleh dua hal ini); pun usia mereka tidak akan melemahkan kekuatan mereka, kecuali jika sudah lelah melewati ribuan abad; dan dalam kematian mereka berkumpul di halls of Mandos di Valinor, dan dari sana mereka bisa kembali ke bumi. Namun anak-anak Manusia mati, dan meninggalkan dunia, sehingga mereka disebut Tamu, atau Orang Asing. Kematian adalah takdir mereka, berkah Ilúvatar, yang mana saat Waktu mengikis bahkan para Dewa akan iri. Namun Melkor menyelimuti berkah tersebut, dan mengutuknya dalam kegelapan, dan membawa kejahatan keluar dari kebaikan, dan ketakutan dari harapan. Namun dahulu kala para Valar menyatakan kepada para Elf di Valinor bahwa Manusia akan bergabung dalam Musik Ainur Kedua; di mana Ilúvatar belum membeberkan apa kehendaknya bagi para Elf setelah akhir Jaman, dan Melkor pun tidak mengetahuinya.

VALAQUENTA


oleh Poppy D. Kartadikaria


TENTANG VALAR


Valar (Powers of Arda) disebut dewa oleh manusia. Lords of the Valar ada tujuh: Manwë, Ulmo, Aulë, Oromë, Mandos, Lórien dan Tulkas. Valier (Queen of the Valars) juga berjumlah tujuh: Varda, Yavanna, Nienna, Estë, Vairë, Vána dan Nessa. Melkor udah nggak dianggep sebagai Vala karena membelot.

Manwë dan Melkor sebenarnya bersaudara dari pikiran Eru. Melkor yang paling kuat di antara Valar, tapi Manwë adalah anak emas Eru. Manwë dijadikan Raja Arda dan menguasai segala isinya, terutama angin, awan dan udara. Manwë mencintai burung yang akan segera melaksanakan perintahnya jika diminta.

Istri Manwë adalah Varda, Lady of the Stars. Kecantikannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kekuatannya adalah dalam cahaya. Dulu Melkor pernah ditolak Varda, maka Melkor membencinya tapi juga paling takut pada Varda dibandingkan segala hal yang pernah diciptakan Eru. Tetep, yang paling ditakutin penjahat ternyata ditolak cewek. Manwë dan Varda duduk di singgasana di puncak gunung tertinggi di Bumi: Taniquetil. Kaum elf menyebut Varda sebagai Elbereth, Vala yang paling mereka elu-elukan.

Ulmo adalah penguasa air. Dia bujangan, nggak pernah menetap di satu tempat dan jarang dateng kalau diundang rapat sama Valar lain kecuali kalau ada masalah yang genting. Ulmo jarang berkeliaran di darat dalam sosok elf atau manusia, dan jika elf atau manusia kebetulan ketemu sang Raja Lautan, mereka ngeri karena tongkrongannya sangar. Suara Ulmo bisa menggelegar lebih nyaring daripada trompet Manwë.

Aulë menguasai semua bahan yang membentuk Arda, dia adalah master seni rupa, dia menciptakan batu mulia, emas, pegunungan dan dasar lautan. Melkor sirik sama Aulë karena merasa punya kemiripan dalam kekuatan dan ketertarikan dalam menciptakan hal-hal yang nggak terpikirkan oleh Valar lain. Bedanya, Aulë setia pada Eru dan nggak berani ngelunjak. Karena lebih sering sirik dan menggerutu, pada akhirnya Melkor hanya bisa jadi plagiator, meniru pekerjaan Valar lain tapi dengan hasil yang lebih jelek. Aulë sampai capek membenahi pekerjaannya yang sering diacak-acak Melkor yang ngambek.

Istri Aulë adalah Yavanna, the Giver of Fruits. Dia mencintai semua hal yang tumbuh di Bumi. Sosoknya adalah wanita jangkung berjubah hijau, meski kadang-kadang berubah jadi bentuk lain. Dia disebut sebagai Kementári, Queen of the Earth, oleh kaum elf.

The Fëanturi, para penguasa roh, adalah kakak beradik yang dikenal sebagai Mandos dan Lórien, meski sebetulnya itu adalah nama tempat kekuasaan mereka. Nama asli mereka adalah Námo dan Irmo. Námo yang lebih tua tinggal di Mandos, lokasi paling barat Valinor. Dia penguasa Dunia Kematian, memanggil semua roh dari makhluk yang terbunuh. Vairë sang Penenun adalah istrinya, yang merajut Waktu dalam jaring yang menutupi seluruh aula di Mandos.

Irmo, adik Námo, adalah penguasa visi dan mimpi. Dia tinggal di Lórien, taman terindah di dunia, yang penuh spirit. Estë sang penyembuh adalah istrinya. Semua makhluk yang tinggal di Valinor minum dan menyegarkan diri di air mancur Irmo dan Estë, bahkan Valar lain sering datang ke Lórien sebagai tempat peristirahatan.

Nienna adalah adik perempuan The Fëanturi, tidak bersuami. Dia penguasa kesedihan dan berkabung untuk setiap luka yang dialami Arda akibat ulah Melkor. Dia tinggal di daerah paling Barat, dekat batas dunia. Dia jarang datang ke kota Valimar di mana orang lain bersuka ria, lebih milih nongkrong di Mandos untuk memberikan harapan pada roh-roh di sana.

Vala yang paling gagah adalah Tulkas, yang datang paling akhir ke Arda dalam pertempuran pertama dengan Melkor. Mirip olahragawan piawai, Tulkas gemar gulat dan tinju, nggak pernah naik kuda karena bisa lari lebih cepat daripada apa pun, dan nggak kenal capek. Senjata andalannya adalah kepalan tinjunya sendiri. Nggak kenal takut, Tulkas adalah pendekar brutal yang ngakak-ngakak bergembira sambil ngasih bogem mentah ke musuh-musuhnya. Istrinya adalah Nessa, saudara perempuan Oromë, yang juga pecicilan loncat sana loncat sini. Nessa gemar menari di taman-taman hijau Valimar dan kijang-kijang akan mengikutinya ke mana pun dia pergi.

Oromë tidak sekuat Tulkas, tapi kalau ngamuk lebih nakutin. Dia pemburu monster, penggemar kuda dan anjing. Di kalangan elf dia dikenal sebagai Penguasa Hutan karena gemar berkeliaran di pepohonan. Istrinya adalah Vaná, adik Yavanna. Bunga bermekaran dan burung berkicau kapan saja Vaná melintas. Pasangan suami istri yang sangat bertolak belakang.


TENTANG MAIAR

Pembantu Valar disebut Maiar, spirit yang kekuatannya tidak sebesar Valar. Jumlah mereka tidak diketahui persisnya, hanya beberapa yang namanya ada dalam sejarah. Pemimpin Maiar adalah Ilmarë (dayang-dayang Varda) dan Eönwë, pembantunya Manwë. Tapi yang paling dikenal kaum elf adalah Ossë dan Uninen.

Ossëa dalah penguasa lautan dan Uinen adalah istrinya, tapi mereka lebih suka berkeliaran di pantai. Para pelaut minta wangsit sama Uinen karena Uinen mampu meredakan ombak dan menjinakkan keliaran suaminya. Kaum Númenórean dilindungi Uinen dan menganggapnya sederajat dengan Vala.

Melkor nggak suka laut karena dia nggak bisa menguasainya. Dulu Ossë pernah dihasut Melkor untuk gabung bersamanya karena Ossë juga bersifat gampang ngamuk, tapi Uinen mencegah. Meski nggak jadi pindah keyakinan, Ossë tetap bersifat liar, maka laut kadang-kadang menggelora tanpa persetujuan Ulmo (sang majikan) dan para pelaut memuja Ossë meski nggak percaya padanya.

Melian adalah bawahan dua Valar sekaligus: Vána dan Estë. Dia tinggal lama di Lórien untuk mengurus taman-taman di sana sebelum hijrah ke Middle-earth. Maia yang paling bijaksana adalah Olórin, juga tinggal di Lórien tapi sering mengunjungi sang Vala Nienna.

Kisah tentang Melian diceritakan dalam Quenta Silmarillion, tapi Olórin tidak termasuk di dalamnya, karena meski dia mencintai kaum elf, dia berada di sekitar mereka tanpa kelihatan atau menyamar jadi elf. Pada zaman-zaman berikutnya dia menjadi teman semua Anak-Anak Ilúvatar.


TENTANG MUSUH-MUSUH


Kaum elf yang sering di-bully oleh Melkor nggak mau menyebutkan namanya, mereka malah memberinya julukan baru: Morgoth, Musuh Dunia. Meski dia Vala yang paling kuat dan memiliki sebagian dari semua kekuatan Valar lain, dia hanya menggunakannya untuk kejahatan. Banyak Maiar ambisius tertarik padanya dan menjadi pengikutnya. Jenis Maia yang paling menakutkan di antara mereka adalah Valaraukar, dikenal sebagai Balrog di Middle-earth.

Di permulaan zaman sudah pernah terjadi pembajakan pembantu, karena Sauron sang Maia (yang disebut Gorthaur si Kejam oleh kaum elf) tadinya adalah pembantu Aulë yang diembat Melkor. Sauron memiliki keahlian pertukangan dan menempa seperti Aulë. Sauron membantu Melkor dalam rencana-rencana liciknya dan menjadi bayang-bayangnya.

AINULINDALË: Nyanyian Ainur


oleh Poppy D. Kartadikaria


Tersebutlah Eru, sang Esa, dipuja dengan nama Ilúvatar di Arda; di awal masa dia menciptakan para Ainur, Makhluk-Makhluk Suci, dari buah pikirannya, dan mereka tinggal bersamanya sebelum segala hal lain tercipta. Dan dia bicara kepada mereka, memberikan tema-tema lagu kepada mereka; dan mereka bernyanyi di hadapannya, dan Eru pun bahagia. Namun untuk waktu yang lama mereka bernyanyi sendiri-sendiri, atau bersama-sama dalam kelompok kecil saja, sementara yang lain mendengarkan; karena masing-masing hanya mahfum sebagian saja pikiran Ilúvatar dari mana mereka berasal, dan sangat lamban untuk memahami saudara-saudara yang lain. Namun semakin mereka mendengarkan, semakin dalam mereka mengerti, dan mereka makin menyatu dalam harmoni.

Begitulah awal Ainulindalë. Eru manggil semua Valar dan menyerahkan harmoni Musik Agung ke hadapan mereka, memerintahkan setiap Vala memberikan kekuatannya sendiri dalam harmoni musik itu, sementara Eru duduk anteng dengerin. Tapi musik dirusak Melkor yang bertindak mau-maunya sendiri, melenceng dari harmoni saudara-saudaranya. Melkor adalah Vala yang paling kuat, maka dia merasa paling okeh dibanding yang lain. Dia pengin menciptakan Makhluk sendiri, pengin mengisi Kehampaan dengan ciptaannya sendiri, dan pengin merebut Api Abadi dari mana Eru menciptakan Valar. Musik pun jadi sumbang gara-gara Melkor.

Denger musik yang sumbang, Eru berdiri, masih senyum-senyum bijak, lalu memulai musik baru yang lebih kuat. Melkor malah ngelunjak dan semakin kenceng bikin musik sumbang. Eru bangkit kedua kali, sekarang tampangnya bete. Tema musik ketiga diciptakan Eru, lebih kuat daripada sebelumnya. Melkor makin kurang ajar dan sekarang menimbulkan suara-suara berisik tanpa nada sampai menimbulkan gempa. Eru bangkit ketiga kali, sekarang bener-bener ngamuk. Satu nada melengking tercipta, kemudian musik berhenti.

Eru bilang Melkor memang yang paling kuat di antara semua Valar, tapi bukan berarti bisa nantangin penciptanya. Melkor sempet malu kena omel di depan Valar lain, tapi dalam hati dia manyun dan pundung di pojokan, dendam kesumat.

Eru mengajak para Valar menuju Kehampaan dan nunjukin visi (kayak hologram kali ye?) tentang sebuah dunia yang tercipta akibat harmoni musik mereka tadi. Masing-masing Vala punya andil dalam penciptaannya, bahkan Melkor yang nyumbangin bagian-bagian lebih gersang. Mereka melihat visi datangnya Anak-Anak Ilúvatar: Eldar (elf) dan Edain (manusia). Para Valar terpesona dan pengin ambil bagian dalam penyusunan Arda (bumi), dan Melkor lantas pengin menguasai semuanya, mau semua tunduk di hadapannya, sirik karena elf dan manusia diberi tempat tinggal sebagus itu.

Masing-masing Vala memiliki spesialisasi sendiri: Ulmo penguasa lautan, Manwë penguasa udara dan angin, Aulë penguasa bahan-bahan di bumi, dsb. Kemudian Eru berkata, “Eä! Let these things Be!” dan terciptalah bumi, dimasukkanlah Api Abadi ke inti bumi. Beberapa Vala turun ke Arda, diperintah Eru untuk beberes di sana supaya Arda bisa jadi tempat tinggal elf dan manusia. Semua Vala bekerja sesuai dengan cetak biru yang dikasih Eru, kecuali Melkor. Dia membangun Arda seenak udelnya sendiri dan dengan pongah bilang bahwa Arda milik dia seorang. Hasilnya, dia dimusuhin Valar yang lain. Akhirnya Melkor mojok sendirian, ngumpet di lokasi terpencil dan berbuat semaunya di sana.

Setiap Vala mengenakan sosok anggun seperti elf, tapi Melkor (karena kelakuannya jelek banget) pake sosok yang menakutkan. Setiap kali Valar yang lain mempercantik Arda, Melkor dateng ngacak-ngacak. Diberesin, diacak-acak lagi. Maka terjadilah perang pertama antara Valar yang lain dengan Melkor, di permulaan zaman, sebelum ada makhluk hidup yang turun ke Arda. Tapi akhirnya Arda pun selesai disusun, meski di beberapa tempat dirusak Melkor. Dan kaum Firstborn (elf) siap dimunculkan.